flag

[URL=http://info.flagcounter.com/eLRD][IMG]http://s01.flagcounter.com/count2/eLRD/bg_FFFFFF/txt_000000/border_CC1FA4/columns_7/maxflags_18/viewers_0/labels_0/pageviews_0/flags_0/percent_0/[/IMG][/URL]

Senin, 23 Juli 2018

agama itu Fitrah Study agama Kontemporer



Nama                       : Roniy Yanggara
Nim                          : 1601121098
Prodi                        : Pendidikan Bahasa Inggris
Agama itu Fitrah
A.    Pengertian Agama dan Fitrah
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Agama ialah “Ajaran,system yang mengatur tata keimanan (kepercayaan)  dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia serta manusia dan lingkungannya”.
            Selanjutnya ada pula pedapat yang mengatakan bahwa agama dalam bahasa arab dikenal dengan  din” (Ad-Diin). Din (Ad-Diin. Bisa berarti : Adat kebiasan atau tingkah laku, balasan, taat, patuh dan tunduk kepada Tuhan, hokum-hukum atau peraturan-peraturan.
            Selain kata “Agama”  dan  Din (Ad-Diin), dikenal juga istilah “Religi” (dari bahasa latin). Ada pendapat yang mengatakan Religi asal katanya “Relegere” yang mengandung arti “mengumpulkan, membaca”. Agama memang merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan. Namun pendapat lain mengatakan “Religi” itu berasal dari “religare”  yang berarti “mengikat”. Ajaran-ajaran agama memang mempunyai sifat yang mengikat bagi manusia. Agama memang mengikat manusia dengan Tuhan[1].
            Secara bahasa, fitrah artinya al Khilqah yaitu keadaan asal manusia diciptkan oleh Allah. Dan ketahuilah, yang dimaksud dengan agama yang fitrah ialah islam. Setiap manusia lahir dalam keaadan berislam, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam :
            “Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikanya Yahudi dan Nasrani” (HR. Bukhari-Muslim).
Dan Allah Ta’ala berfirman :
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ    
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Qr. Ar- Ruum : 30)
                                                                                                                                   
            Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
            Seorang ulama pakar tafsir, Imam Ibnu Katsir, menjelaskan ayat ini: “Maksudnya tegakkan wajahmu dan teruslah berpegang pada apa yang di isyaratkan Allah kepadamu, yaitu berupa agama Nabi Ibrahim yang hanif, yang merupakan pedoman hidup bagimu. Yang Allah telah sempurnakan agama ini dengan dengan puncak kesempurnaan. Dengan itu berarti engkau masih berada pada fitrahmu yang salimah (lurus dan benar).     Sebagaimana Allah ciptakan para makhluk dalam keadaan itu. Yaitu Allah menciptakan para makhluk dalam keadaan mengenal-Nya, mentauhid-Nya dan mengakui tidak ada yang berhak disembah selain Allah”[2]
B.     Latar Belakang perlunya manusia dalam beragama
            Sekurang-kurangnya ada tiga alasan yang melatar belakangi perlunya manusia dalam beragama. ketiga alasan tersebut secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.      Latar belakang fitrah manusia
      Ada potensi fitrah beragama yang terdapat pada manusia tersebut dapat pula dianalisis dari istilah insan yang digunakan alquran untuk menunjukan manusia. Mengacu kepada informasi yang diberikan Alquran, Musa Asy’ari sampai pada suatu kesimpulan, bahwa manusia insan adalah manusia yang menerima pelajaran dari Tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya. Manusia insan secara kodrati sebagai ciptaan Tuhan lainya sudah dilengkapi dengan kemampuan mengenal dan memahami kebenaran dan kebaikan yang terpancar dari ciptaan-Nya. Musa Asy’ari mengatakan bahwa pengertian manusia yang disebut insan , yang dalam alquran dipakai untuk menunjukan lapangan kegiatan manusia yang amat luas adalah terletak pada kemampuan menggunakan akalnya dan mewujudkan pengetahuan konseptual dalam kehidupan kongkrit.



Informasi mengenai potensi beragama yang dimiliki manusia itu terdapat pula dalam ayat sebagai berikut.
øŒÎ)ur xs{r& y7/u .`ÏB ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä `ÏB óOÏdÍqßgàß öNåktJ­ƒÍhèŒ öNèdypkô­r&ur #n?tã öNÍkŦàÿRr& àMó¡s9r& öNä3În/tÎ/ ( (#qä9$s% 4n?t/ ¡ !$tRôÎgx© ¡ cr& (#qä9qà)s? tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# $¯RÎ) $¨Zà2 ô`tã #x»yd tû,Î#Ïÿ»xî ÇÊÐËÈ  
172. dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",(QR. Al-A’raf,7:172).
      Terlihat jelas informasi ayat Al-Quran di atas bahwa manusia secara fitri merupakan makhluk yang memiliki kemampuan beragama. Manusia sudah terdapat potensi untuk beragama. Potensi beragama ini memerlukan pembinaan, pengembangan, dan seterusnya dengan mengenalkan agama kepadanya.
2.      Kelemahan dan kekurangan manusia
      Factor lainya yang melatarbelakangi manusia memerlukan agama adalah karena manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan. Hal ini antara lain diungkapkan oleh kata al-nafis. Menurut Quraish Shihab, bahwa dalam pandangan Alquran, nafis diciptakan Allah dalam keadaan sempurna yang berfungsi manampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan, dan karena itu sisi dalam manusia inilah yang oleh Alquran dianjurkan untuk diberi perhatian lebih besar. Kita misalnya membaca ayat Al-quran yang berbunyi,
<§øÿtRur $tBur $yg1§qy ÇÐÈ   $ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ  
“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”.(QS. Al-Syams, 91:7-8)
      Menurut Quraish Shihab bahwa kata mengilhamkan berarti potensi agar manusia melalui nafs menangkap makna baik dan buruk, serta dapat mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Disini antara lain terlihat perbedaan pengertian kata ini menurut Alquran dengan terminology kaum sufi, yang oleh Al-Qusyairi dalam risalanya dinyatakan bahwa nafs dalam pengertian sufi adalah sesuatu yang melahirkan sifat  tercela dan perilaku buruk. Pengertian kayn Sufi tentang nafs ini sama dengan yang terdapat dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang menjelaskan bahwa nafs adalah dorongan hati yang kuat untuk berbuat yang kurang baik.
      Dalam literatur teologi Islam kita jumpai pandangan kaum Mu’tazillah yang rasionalis, karena banyak mandahulukan pendapat akal dalam memperkuat argumentasinya daripada pendapat wahyu.
3.      Tantangan manusia
      Faktor lain yang menyebabkan manusai memerlukan agama adalah karena manusai dalam kehidupanya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Tantang dari  dalam dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikin syetan (lihat QS 12;517;53). Sedangkan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yag secara sengaja berupaya memalingkan manusia dari Tuhan. Mereka dengan rela mengeluarkan biaya, tenaga, dan pikiran yang dimenifestasikan dalam berbagai bentuk kebudayaan yang didalamnya mengandung misi menjauhkan manusi dari Tuhan. Kita misalnya membaca ayat yang berbunyi:
¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#rãxÿx. tbqà)ÏÿZムóOßgs9ºuqøBr& (#rÝÁuÏ9 `tã È@Î6y «!$# 4 $ygtRqà)ÏÿZãŠ|¡sù §NèO Ücqä3s? óOÎgøn=tæ Zotó¡ym §NèO šcqç7n=øóム3 z`ƒÏ%©!$#ur (#ÿrãxÿx. 4n<Î) zO¨Yygy_ šcrçŽ|³øtä ÇÌÏÈ    
Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan”,(QS. Al-Anfal, 8;36).
      Orang-orang kafir itu sengaja mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mereka gunakan agara orang mengikuti keinginannya. Berbagai bentuk budaya, hiburan, obat-obat terlarang dan lain sebagainya dibuat dengan sengaja. Upaya untuk membentengi manusia adalah dengan mengajarkan mereka taat menjalankan agama. Godaan dan tantangan hidup demikian itu, saat ini semakin meningkat, sehingga upaya mengagamakan masyarakat menjadi penting.
C.    Fitrah Manusia Terhadap Agama
            Keinginan kepada hidup beragama adalah salah satu sifat –sifat dari manusia. Itu adalah nalurinya, garizahnya, fitrahnya, kecenderunganya yang telah menjadi pembawaanya, dan bukan suatu yang dibuat-buat, atau suatu keinginan yang datang kemudian, lantaran pengaruh dari luar. Sama halnya keinginan makan dan minum, keturunan, memiliki  harta dan benda, berkuasa dan bergaul dengan sesame manusia.
            Dengan demikian, maka manusia pada dasaranya makhluk yang relegius, yang sangat cenderung kepada hidup beragama itu adalah panggilan hati nuraninya. Sebab itu, andaikan Tuhan tidak mengutus Rasul-Nya untuk menyampaikan   agama-Nya kepada manusia ini, namun mereka akan berusaha dengan ikthiarnya sendiri untuk mecari agama itu segaimana ia merasa lapar. Dan memang sejarah kehidupan manusia telah membuktikan,  bahwa mereka dengan ikhtiar sendiri telah dapat menciptakan agamanya, yaitu agama yang kita sebut “Agama-agama Ardhiyah”.
            Apakah yang mendorong manusia sehingga mereka sampai kepada agama dan hidup beragama? Yang mendorong mereka ialah sifat-sifat  dan pembawaan-pembawaan yang ada pada diri mereka juga, yang antara lain ialah : sifat ingin tahu, ingin melindungi diri, dan ingin menyatakan syukur atau terima kasih, dan lain-lain.
            Dengan ini sampailah manusia itu kepada keyakinan tentang adanya Tuhan, pencipta alam semesta. Dia telah menemukan Tuhan. Dan keyakinanya ini bertambah kuat lagi setelah ia menyelidiki dirinya sendiri. Diketahuinya, bahwa sebelum ia lahir di dunia ini ia telah bertumbuh dan berkembang dalam kandungan ibnya selama bebrapa bulan dari dua unsur, yaitu unsur kasar atau jasmani yang terdiri : tulang-tulang, darah, daging dan perlengkapan lainya.
            Pengenalan manusia terhadap dirinya ini juga merupakan jalan untuk mengenal Tuhan. Sebab itu cendikiawan berkata :
“Barang siapa yang telah mengenali dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya”.
            Dengan ada keyakinan mengenai tentang Tuhan ini, dari dengan adanya upacara-upacara ibadah untuk menyatakan puji syukur dan memohon perlindungan  itu maka lahirlah agama, yaitu agama “ciptaan manusia”. Perkembangan selanjutnya mereka penciptakan hukum-hukum, dan peraturan-peraturan agama, yang dihimpunkan dalam kitab suci.
            Beragama pada dasarnya merupakan kecenderungan manusia yang sesuai dengan insting dan fitrahnya untuk mengakui adanya kekuatan dari luar biasa diatas alam yang ada ini. Insting itu lahir karena kekaguman manusia melihat ciptaan yang tidak tertara ini. Oleh karena itu beragama adalah tabiat atau naluri yang pertama. Pada manusia purba insting mangagumi kekuasaan dan kaagungan itu dalam bentuk megakui banyak Tuhan bahwa sesuatu ada yang menguasainya; ada penguasu angina, penguasa air, dan penguasa setiap gerak pada diri manusia yang memberi manfaat pada dirinya atau menimbulkan kemelaratan dan kerusakan dalam ini. Paham beragama itu berjalan pula dengan perkembangan pikiran manusia. Semakin maju ilmu manusia semakin sedikit Tuhan-tuhan yang mereka percayai. Demikianlah dari mempercai Tuhan (Polytheisme) berangsur-angsur Tuhan mereka berkurang juga sehingga akhirnya hanya mengakui adanya satu Tuhan (monotheisme).
            Agama adalah merupakan jawaban terhadap kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman, terutama pada hati manusia. Banyak umat yang telah merasa menemukan agama/jalan hidupnya sesuai dengan keyakinanya sendiri-sendiri, sedangkan yang sebenarnya hanya satu agama islam-lah yang akan benar-benar memberikan rasa aman, memberikan harapan-harapan yang nyata, baik untuk kehidupan di dunia maupun alam baka.    


[1]Jirhanudin, Perbandingan agama, (Yogyakarta : PUSTAKA BELAJAR: 2010), hlm.1-4
                [2] Abu Ahmadi, dasar-dasar pendidikan agama islam, Jakarta : BUMI AKSARA : 1994. Hlm 14-16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar