flag

[URL=http://info.flagcounter.com/eLRD][IMG]http://s01.flagcounter.com/count2/eLRD/bg_FFFFFF/txt_000000/border_CC1FA4/columns_7/maxflags_18/viewers_0/labels_0/pageviews_0/flags_0/percent_0/[/IMG][/URL]

Jumat, 21 April 2017

Pendekatan Teologis dalam studi Islam



MAKALAH METODOLOGI STUDI ISLAM
“PENDEKATAN TEOLOGIS DALAM STUDI ISLAM”
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah metodologi studi Islam
Dosen Pengampu: Dr. M. Ali Sibram Malisi, M.Ag


Disusun oleh:

Hatmi                          NIM. 1601121123
Monalisa                      NIM. 1601121071     
Norman Hadi              NIM. 1601121076
Nur Annisa                  NIM. 1601121078
Raudatul Hasanah       NIM. 1601121000


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA
PRROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
TAHUN 2017 M/ 1438 H

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, berkat rahmat Allah Swt. akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah yang bertajuk Pendekatan Teologis dalam Studi Islam. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas yang diberikan oleh Bapak Dr. M. Ali Sibram Malisi, M.Ag. selaku dosen pengampu mata kuliah metodologi studi Islam
Makalah ini memuat berbagai macam pembahasan yang terkait denganpengertian teologi, pengertian pendekatan teologi, pengertian studi Islam, dan pendekatan teologis dalam studi Islam.
Makalah ini disusun berdasarkan pendalaman materi yang telah kami lakukan secara efektif, namun kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Demikian makalah ini kami susun dengan harapan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.




Palangka Raya, Maret 2017


Penyusun









DAFTAR ISI

BAB I
Pendahuluan...................................................................................................................... 1
A.    Latar Belakang..................................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah................................................................................................ 1
C.     Tujuan.................................................................................................................. 2
D.    Metode................................................................................................................. 2
BAB II
Pembahasan....................................................................................................................... 3
A.    Pengertian teologi................................................................................................ 3
B.     Pengertian pendekatan teologi............................................................................. 4
C.     Pengertian studi islam.......................................................................................... 5
D.    Pendekatan teologis dalam studi islam................................................................ 7
Penutup............................................................................................................................. 9
A.    Kesimpulan.......................................................................................................... 9
B.     Saran.................................................................................................................... 9
Daftar Pustaka.................................................................................................................. 10


BAB I
PENDAHULUAN

A.       LATAR BELAKANG
Agama merupakan sebuah pedoman dalam kehidupan yang diyakini para penganutnya, agama memiliki pengaruh yang sangat penting bagi manusia. Dalam menjalani kehidupan suatu hal yang kita mantapkan adalah aqidah/kayakinan kepada allah SWT. Seolah aktifitas sehari-hari tak ada gunanya jika tidak di dasari dengan keimanan yang kuat. Dalam kajian ini kita telah mengenal Teologi Islam yang membahas tentang pemikiran dan kepercayaan tentang ketuhanan. Teologi Islam ini sudah sepantasnya kita ketahui agar dalam menjalani kehidupan ini kita mengetahaui dan menjadi idealnya orang Islam. Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menjumpai perbedaan-perbedaan pemikiran dan aqidah yang mengiringi, dan kita harus pandai dalam memilih dan memilahnya dengan berlandaskan Al-qur’an dan Al-hadist. Sang Revolusioner umat islam mengingatkan  oleh Rasulullah bahwa “ umatku akan berpecah menjadi tujuh pulu tiga dan hanya satu yang benar.”
Pemikiran yang berbeda merupakan penyebab saling menyalahkannya  antara lain yang kita ketahui adalah: Ahlussunnah Wal Jama’ah, Mu’tazilah Qodariyah dll. Yang semuanya memiliki pendapat masing-masing tentang tauhid/keyakinan atau tentang hal ketuhanan. Dan kita sebagai orang yang memegang agama Allah harus mengetahui manakah pemikiran yang benar dal yang salah, dalam memandangnya kita harus berpegang teguh pada Al-qur’an dan Al-hadist. Hal ini merupakan hal penting yang harus di pelajari agar apa yang menjadi keyakinan kita tentang Allah tidak salah, dan seaandainya apabila keyakinan kita salah tentang-Nya maka kita bisa saja kita di anggap orang keluar agama Islam.


B.       RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian dari teologi?
2.      Apa pengertian dari pendekatan teologis?
3.      Bagaimana pendekatan teologis dalam studi Islam?



C.       TUJUAN
1.      Mengetahui pengertian dari teologi.
2.      Mengetahui pengertian pendekatan teologis.
3.      Mengetahui bagaimana pendekatan teologis dalam studi Islam.

D.       METODE
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Metode kepustakaan (Library Research)
2.      Metode penelusuran internet (Web SearchI).
BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN TEOLOGI
Teologi secara umum dipahami sebagai “ilmu tentang ke-Tuhan-an”, teologi sendiri berasal dari kata theos yang berarti Tuhan dan logos yang berarti ilmu atau pengetahuan. Artinya teologi merupakan ilmu yang membahas tentang ke-Tuhan-an. Teologi  berbicara tentang dasar-dasar kepercayaan kepada Tuhan. Di era modern, teologi dijadikan sebagai suatu disiplin akademik, pengajaran teologi merujuk pada pengajaran tentang Tuhan dan hubungannya dengan dunia dari penciptaan sampai penyempurnaan.
Teologi bukan agama dan tidak sama dengan ajaran agama. Dalam teologi terdapat unsur “akal menyelidiki isi iman” yang diharapkan memberikan sumbangan substansial untuk integrasi akal dan iman serta ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Pada mulanya istilah teologi lebih banyak dipakai dalam agama Kristen, namun seiring berjalannya waktu teologi tidak hanya berkaitan dengan agama Kristen namun mencakup berbagai agama. Salah satunya adalah agama Islam. Dalam perspektif Islam teologi didefinisikan secara beragam. Istilah teologi Islam disepadankan dengan beberapa istilah berikut ini.
Pertama, ilmu kalam yang berkaitan dengan kitab suci Al-Qur’an. Kedua, ilmu tauhid karena agama Islam menitikberatkan kepada ke-Esa-an Allah SWT. Ketiga, ilmu ushuluddin yang membahas tentang prinsip-prinsip kepercayaan agama dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits dan dalil-dalil akal pikiran. Keempat, ilmu akidah.
Dalam konteks Islam aspek teologis memiliki kedudukan yang fundamental. Hal ini tidak lain karena teologi dipandang sebagai hal yang sangat lekat dengan dimensi keyakinan yang merupakan dimensi terdalam dalam diri manusia. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan berdasarkan pada landasan yang kuat, yang tidak mudah diumbang-ambing oleh peredaran zaman. Diskursus teologi, pada hakikatnya, senantiasa akan menyangkut aktivitas mental berupa kesadaran manusia yang paling dalam perihal relasi manusia dengan Tuhan, lingkungan dan sesamanya, yang kemudian diwujudkan dalam tingkah laku sosialnya.[1]


B.     PENGERTIAN PENDEKATAN TEOLOGI
Pendekatan atau approach (dalam bahasa Inggris) adalah disiplin ilmu yang dijadikan landasan kajian sebuah studi atau penelitian. Pendekatan dapat dikatakan sebagai disiplin ilmu karena, tujuan utama dari pendekatan tersebut adalah untuk mengetahui sebuah kajian dan langkah-langkah metodologis yang dipakai dalam suatu pengkajian atau penelitian.
Pendekatan teologi adalah pembahasan exsistensi Tuhan dalam konsep nilai- nilai ketuhanan yang terekontruksi dengan baik, sehingga pada akhirnya menjadi sebuah agama atau aliran kepercayaan. Pendekatan teologi dalam penelitian agama yang dimaksud disini adalah eksistensi tuhan.[2]
Pendekatan teologis juga bisa disebut sebagai pendekatan kewahyuan atau pendekatan keyakinan peneliti itu sendiri. Pendekatan seperti ini biasanya dilakukan dalam penelitian suatu agama yang diyakini peneliti tersebut untuk menambah pembenaran keyakinan terhadap agama yang dipeluknya.[3]
Pendekatan Teologi merupakan pendekatan yang cenderung normatife dan subjektif terhadap agama. Pendekatan ini umumnya dilakukan dari dan oleh suatu penganut agama dalamupaya menyelidiki agama lain. Pendekatan ini sering j uga disebut dengan metode tekstual,atau pendekatan kitabi. Sebab itu,metode ini seringkali menampakan sifatnya yang opogetis dan deduktif. Pendekatan teologi sering disebut j uga sebagai prekspektif timur,pendekatan teologi berarti pendekatan kewahyuan atau pendekatan keyakinan peneliti itu sendiri.
Dimana agama tidak lain merupakan hak prerogatife tuhan Tuhan. Realitas sejati dari agama adalah sebagaimana yang dikatakan oleh masing- masing agama.[4]
Karena sifat dasarnya yang partikularistik, maka dengan mudah kita dapat menemukan teologi yang beragam, seperti teologi Kristen-Katolik, teologi Kristen-Protestan, teologi Islam dan lain sebagainya.



C.            PENGERTIAN STUDI ISLAM
Studi berasal dari bahasa Inggris, study artinya mempelajari atau mengkaji, yang berarti pengkajian terhadap Islam secara ilmiah, baik Islam sebagai sumber ajaran, pemahaman, maupun pengamalan.
Islam berasal dari bahasa Arab, dari kata salima dan aslama. Salima mengandung arti selamat, tunduk dan berserah. Aslama juga mengandung arti kepatuhan, ketundukan, dan berserah. Orang yang tunduk, patuh dan berserah diri kepada ajaran Islam disebut muslim, dan akan selamat dunia akhirat. Secara istilah, Islam adalah nama sebuah agama samawi yang disampaikan melalui para Rasul Allah, khususnya Rasulullah Muhammad SAW, untuk menjadi pedoman hidup manusia.
Studi Islam adalah pengkajian terhadap segala ilmu yang diperlukan oleh seseorang muslim dalam kehidupan dunia dan bagi keselamatan ukhrawi hari kemudian. Ilmu ukhrawi dalam studi Islam meliputi banyak hal yang tidak termasuk dalam kegiatan penalaran. Sedangkan ilmu duniawi dalam studi Islam adalah ilmu yang tergolong empiris, dan memerlukan metode ilmiah dalam pengkajiannya.[5]
Di Barat kajian Islam terkenal dengan Islamic Studies, yaitu usaha mendasar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam seluk beluk yang berhubungan dengan agama Islam, baik ajaran-ajarannya, sejarahnya, maupun praktek-praktek pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari sepanjang sejarahnya (Djamaluddin, 1999:127). Metodologi studi Islam adalah prosedur yang ditempuh secara ilmiah, cepat dan tepat dalam mempelajari Islam secara luas dalam
berbagai aspeknya, baik dari segi sumber ajaran, pemahaman terhadap sumber ajaran
maupun sejarahnya.
Dalam metodologi Studi Islam terdapat prosedur ilmiah, sebagai ciri pokoknya, yang
membedakan dengan studi Islam lainnya yang tanpa metodologi. Kegiatan pengajian
Metodologi Studi Islam misalnya, berbeda dengan kegiatan pengkajian. Pengajian adalah proses
memperoleh pengetahuan Islam yang bersifat normatif-teologis bersumber pada Alquran dan Sunnah yang dipahami berdasarkan salah satu pemahaman tokoh madzhab tertentu. Hasilnya umat memperoleh dan mengamalkan pengetahuan Islamnya sesuai dengan pemahaman madzhabnya. Benar dan salah diukur oleh pendapat madzhabnya. Dalam pengajian Islam tidak dibuka wacana dan pemahaman lain selain paham madzhabnya. Jika suatu kali menyentuh paham madzhab lain, tidak dibahas apalagi dipertimbangkan, akan tetapi segera dianggap sesuatu yang keliru, sesat, menyimpang dan tidak jarang dikafirkan.
Umat nyaris tidak tahu ada banyak paham madzhab lain yang juga benar. Umat Islam
pada umumnya hanya tahu bahwa Islam satu, yang benar itu satu yakni menurut madzhab
tertent Di Indonesia dalam pengajian itu umumnya kalau dalam bidang tauhid madzhabny
Asyariah/Ahlussunah waljamaah, bidang fikih madzhabnya Imam Syafi’i, bidang tasawuf
madzhab suni bercorak amali. Pengajian biasanya diselenggarakan dalam majelis-majelis
taklim dengan berbagai bentuknya, begitu juga kebanyakan madrasah dan pesantren dalam
mempelajari Islam lebih mirip kegiatan pengajian ketimbang pengkajian.
Kelebihan dari pengajian, umat memperoleh pengetahuan yang simpel, sederhana dan
merasa mantap dengan pengetahuan yang diperolehnya. Adapun kelemahannya amat banyak yaitu antara lain:
1. Umat pengetahuannya terbatas hanya pada satu madzhab tertentu, padahal masih
terdapat banyak madzhab yang lain, yang boleh jadi lebih relevan.
2. Umat menjadi kaku ketika berhadapan dengan umat lain yang berbeda madzhab.
Mereka mengira hanya ada satu madzhab dan hanya madzhabnya saja yang benar.
3. Umat tidak memiliki pilihan alternatif pemikiran sesuai dengan perkembangan tempat
dan zaman yang perkembangannya sangat dinamis.
Berbeda dengan pengajian Islam, pengkajian Islam adalah proses memperoleh
pengetahuan Islam yang disamping bersifat normatif-teologis, juga bersifat empiris
dan historis dengan prosedur ilmiah. Islam dikaji dari berbagai aspeknya seperti aspek

ibadah dan latihan spritual, teologi, filsafat, tasawuf, politik sejarah kebudayaan Islam
dan lain-lain. Pada setiap aspek dikaji aliran dan madzhab-madzhabnya. Sehingga Islam
yang satu nampak memiliki ajaran yang banyak jenisnya dan tiap jenis ajaran memiliki
ajaran spesifik dari berbagai madzhab atau aliran. Dengan demikian Islam yang satu
memiliki ragam ajaran, ragam pemahaman dan ragam kebenaran. Dengan mengetahui
Islam dari berbagai aspeknya dan dari berbagai madzhab dan alirannya melalui metode
yang sistematis, seseorang akan memiliki pengetahuan Islam yang komprehensif
.[6]

D.            PENDEKATAN TEOLOGIS DALAM STUDI ISLAM
Dalam konteks ajaran Islam, pendekatan teologi yang digunakan adalah pendekatan teologi yang bersifat normatif. Yang dimaksud bersifat normatif adalah memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan. Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ilmu ke-Tuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan agama yang lainnya.[7]Dengan demikian, antara satu aliran dan aliran lainnya tidak terbuka dan cenderung tidak saling menghargai satu sama lainnya, hal ini lah yang menyebabkan pemisahan dan ketertutupan antar aliran.
Dalam kaitan ini Amin Abdullah mengatakan, “yang menarik perhatian sekaligus perlu dikaji lebih lanjut adalah mengapa ketika archetype atau forn keberagaman (religiosity) manusia telah terpecah dan termanifestasikan dalam “wadah” formal teologi atau agama tertentu, lalu “wadah” tersebut menuntut bahwa hanya “kebenaran” yang dimilikinyalah yang paling unggul dan paling benar.[8] Fenomena semacam inilah yang telah disebutkan di atas sebagai mengklaim kebenaran (truth claim), yang menjadi sifat dasar teologi, sudah tentu mengandung impilikasi pemikiran yang partikularistik, eksklusif dan sering kali intoleran. Pemikiran seperti ini lebih menonjolkan perbedaan-perbedaan dan menutup rapat persamaan-persamaan yang ada di antara kelompok-kelompok tersebut.
Pendekatan teologi semata tidak dapat memecahkan masalah pluralitas agama sekarang ini. Berkenaan dengan hal tersebut, saat ini muncul istilah teologi masa kritis, salah satu ciri dari teologi masa kini adalah sifat krtitisnya. Sikap kritis ini ditujukan pertama-pertama pada aganya sendiri (agama sebagai institusi sosial dan kemudian juga kepada situasi yang dihadapinya). Teologi sebagai kritik agama berarti antara lain mengungkapkan berbagai kecenderungan dalam institusi agama yang menghambat panggilannya menyelamatkan manusia dan kemanusiaan. Teologi bersikap kritis pula terhadap lingkungannya. Hal ini dapat terjadi kalau agama juga terbuka terhadap ilmu sosial dan memanfaatkannya bagi pengembangan ilmu teologi itu sendiri.
Pemahaman teologi yang bersifat tertutup memang memicu terjadi perpisahan atau perpecahan antar kelompok, namun bukan berarti dalam studi Islam tidak memerlukan pendekatan teologi dalam pengkajiannya, karena tanpa adanya pendekatan teologis, keagamaan seseorang akan luntur dan tidak jelas identitasnya serta pelembagaanya.  Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa pendekatan teologis dalam memahami bahwa pendekatan teologis dalam memahami agama menggunakan cara berpikir  yang deduktif, yaitu cara berpikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlak adanya, karena jaran yang berasal dari Tuhan, sudah pasti benar, sehingga tidak perlu dipertanyakan lebih dahulu, melainkan dimulai dari keyakinan yang selanjutnya diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi yang mendukung.



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Teologi secara umum dipahami sebagai “ilmu tentang ke-Tuhan-an”, teologi sendiri berasal dari kata theos yang berarti Tuhan dan logos yang berarti ilmu atau pengetahuan. Artinya teologi merupakan ilmu yang membahas tentang ke-Tuhan-an. Baik sifat-sifatNya maupun tindak lakunya. Di dalam islam sering dinamakan ilmu kalam, yang merupakan cabang dari ilmu tauhid. Dimana ilmu kalam memberikan porsi naqli terhadap adanya Alloh S.W.T.
Pendekatan teologi adalah pembahasan exsistensi Tuhan dalam konsep nilai- nilai ketuhanan yang terekontruksi dengan baik, sehingga pada akhirnya menjadi sebuah agama atau aliran kepercayaan.
                Dalam konteks ajaran Islam, pendekatan teologi yang digunakan adalah pendekatan teologi yang bersifat normatif, yaitu memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan.
   Teologi bukan muncul karena bukan hanya gejola politik pada masa khalafa rasyidin, akan tetapi muncul karena perbedaan pemikiran antar imam, antar guru dan murid. Maka dari itu memang perbedaan adalah rahmatan lil’alamin.
            Saran
          Agar para pembaca bisa lebih memahami kembali mengenai apa itu teologi supaya kedepannya pengertian dari teologi, teologi islam dan bagaimana pendekatan teologis dalam studi Islam tidak membuat bingung kita sebagai umat islam dan kita mengerti berbagai macam ilmu tentang teologinya sehingga kita mengerti, faham, dan mengamalkan salah satu kasih sayang dari Alloh S.W.T kepada umatnya, yaitu mengenai indahnya perbedaan, karena di dunia ini kita terlahir dengan beragam pemikiran dan pemahaman yang berbeda, dan dari perbedaan inilah akan lahir berbagai pendapat antar yang berbeda demi terciptanya keindahan dalam menjalani kehidupan di dunia fana ini dan demi mendapatkan ridha-Nya. Allah Swt.




DAFTAR PUSTAKA
·         Harun Nasotion, Teologi Islam (ilmu kalam), (J akarta:UI Press,1978)
·         https://s2pergunutulungagung.wordpress.com/2014/02/09. (Diakses pada Sabtu, 04 Maret 2017, pukul 18:42:17 WIB).
·         Khoiriyah, M.Ag., Memahami Metodologi Studi Islam, (Yogyakarta: Teras, 2013)
·         Muhammad In’am Esha, Teologi Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008)
·         Prof. Dr. H. Abuddin Nata ,M.A, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008)
·         Supiana. Metoologi Studi Islam. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama. 2012.
·         Taupik Abdullah, Sejarah dan Masyarakat,(J akarta:Pusaka Firdaus 1987)




[1]         Muhammad In’am Esha, Teologi Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008), hlm. 62-64
[2]         Harun Nasotion, Teologi Islam (ilmu kalam), (J akarta:UI Press,1978) ,Cet. I, hlm. 32
[3]         https://s2pergunutulungagung.wordpress.com/2014/02/09. (Diakses pada Sabtu, 04 Maret 2017, pukul 18:42:17 WIB).
[4]          Taupik Abdullah, Sejarah dan Masyarakat,(J akarta:Pusaka Firdaus 1987), hlm105
[5]         Khoiriyah, M.Ag., Memahami Metodologi Studi Islam, (Yogyakarta: Teras, 2013), hlm. 85
[6]        Supiana. Metoologi Studi Islam. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama. 2012. Hlm: 4.
[7]        Prof. Dr. H. Abuddin Nata ,M.A, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 28.
[8]       Ibid, hlm. 30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar