MAKALAH METODOLOGI STUDI ISLAM
“PENDEKATAN TEOLOGIS DALAM STUDI ISLAM”
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah metodologi
studi Islam
Dosen Pengampu: Dr. M. Ali Sibram Malisi, M.Ag

Disusun oleh:
Hatmi NIM.
1601121123
Monalisa NIM.
1601121071
Norman Hadi NIM.
1601121076
Nur Annisa NIM.
1601121078
Raudatul Hasanah NIM.
1601121000
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA
PRROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
TAHUN 2017 M/ 1438 H
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, berkat rahmat Allah Swt. akhirnya kami dapat
menyelesaikan makalah yang bertajuk Pendekatan Teologis dalam Studi Islam.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas yang diberikan oleh Bapak Dr. M.
Ali Sibram Malisi, M.Ag. selaku dosen pengampu mata kuliah metodologi studi
Islam
Makalah ini
memuat berbagai macam pembahasan yang terkait denganpengertian teologi,
pengertian pendekatan teologi, pengertian studi Islam, dan pendekatan
teologis dalam studi Islam.
Makalah ini
disusun berdasarkan pendalaman materi yang telah kami lakukan secara efektif,
namun kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah
ini, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari
para pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Demikian makalah ini kami susun
dengan harapan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.
Palangka Raya, Maret 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
Pendahuluan...................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang..................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................................ 1
C. Tujuan.................................................................................................................. 2
D. Metode................................................................................................................. 2
BAB II
Pembahasan....................................................................................................................... 3
A. Pengertian teologi................................................................................................ 3
B. Pengertian pendekatan teologi............................................................................. 4
C. Pengertian studi islam.......................................................................................... 5
D. Pendekatan teologis dalam studi islam................................................................ 7
Penutup............................................................................................................................. 9
A. Kesimpulan.......................................................................................................... 9
B. Saran.................................................................................................................... 9
Daftar Pustaka.................................................................................................................. 10
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Agama
merupakan sebuah pedoman dalam kehidupan yang diyakini para penganutnya, agama
memiliki pengaruh yang sangat penting bagi manusia. Dalam menjalani kehidupan suatu hal yang kita mantapkan adalah
aqidah/kayakinan kepada allah SWT. Seolah aktifitas sehari-hari tak ada gunanya
jika tidak di dasari dengan keimanan yang kuat. Dalam kajian ini kita telah
mengenal Teologi Islam yang membahas tentang pemikiran dan
kepercayaan tentang ketuhanan. Teologi Islam ini sudah sepantasnya kita ketahui
agar dalam menjalani kehidupan ini kita mengetahaui dan menjadi idealnya orang
Islam. Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menjumpai perbedaan-perbedaan
pemikiran dan aqidah yang mengiringi, dan kita harus pandai dalam memilih dan
memilahnya dengan berlandaskan Al-qur’an dan Al-hadist. Sang Revolusioner umat
islam mengingatkan oleh Rasulullah bahwa
“ umatku akan berpecah menjadi tujuh pulu tiga dan hanya satu yang benar.”
Pemikiran yang berbeda merupakan penyebab saling menyalahkannya
antara lain yang kita ketahui adalah: Ahlussunnah Wal Jama’ah, Mu’tazilah
Qodariyah dll. Yang semuanya memiliki pendapat masing-masing tentang
tauhid/keyakinan atau tentang hal ketuhanan. Dan kita sebagai orang yang
memegang agama Allah harus mengetahui manakah pemikiran yang benar dal yang
salah, dalam memandangnya kita harus berpegang teguh pada Al-qur’an dan
Al-hadist. Hal ini merupakan hal penting yang harus di pelajari agar apa yang
menjadi keyakinan kita tentang Allah tidak salah, dan seaandainya apabila
keyakinan kita salah tentang-Nya maka kita bisa saja kita di anggap orang
keluar agama Islam.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian dari teologi?
2.
Apa pengertian dari pendekatan teologis?
3.
Bagaimana pendekatan teologis dalam studi Islam?
C.
TUJUAN
1.
Mengetahui pengertian dari teologi.
2.
Mengetahui pengertian pendekatan teologis.
3.
Mengetahui bagaimana pendekatan teologis dalam studi Islam.
D.
METODE
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1.
Metode kepustakaan (Library Research)
2.
Metode penelusuran internet (Web SearchI).
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN TEOLOGI
Teologi secara umum dipahami sebagai “ilmu tentang ke-Tuhan-an”,
teologi sendiri berasal dari kata theos
yang berarti Tuhan dan logos yang
berarti ilmu atau pengetahuan. Artinya teologi merupakan ilmu yang membahas
tentang ke-Tuhan-an. Teologi berbicara
tentang dasar-dasar kepercayaan kepada Tuhan. Di era modern, teologi dijadikan
sebagai suatu disiplin akademik, pengajaran teologi merujuk pada pengajaran
tentang Tuhan dan hubungannya dengan dunia dari penciptaan sampai
penyempurnaan.
Teologi bukan agama dan tidak sama dengan ajaran agama. Dalam
teologi terdapat unsur “akal menyelidiki isi iman” yang diharapkan memberikan
sumbangan substansial untuk integrasi akal dan iman serta ilmu pengetahuan yang
bermanfaat bagi kehidupan manusia. Pada mulanya istilah teologi lebih banyak
dipakai dalam agama Kristen, namun seiring berjalannya waktu teologi tidak
hanya berkaitan dengan agama Kristen namun mencakup berbagai agama. Salah
satunya adalah agama Islam. Dalam perspektif Islam teologi didefinisikan secara
beragam. Istilah teologi Islam disepadankan dengan beberapa istilah berikut
ini.
Pertama, ilmu kalam yang berkaitan dengan kitab suci Al-Qur’an. Kedua, ilmu
tauhid karena agama Islam menitikberatkan kepada ke-Esa-an Allah SWT. Ketiga,
ilmu ushuluddin yang membahas tentang prinsip-prinsip kepercayaan
agama dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits dan dalil-dalil akal pikiran. Keempat,
ilmu akidah.
Dalam konteks Islam aspek teologis memiliki kedudukan yang
fundamental. Hal ini tidak lain karena teologi dipandang sebagai hal yang
sangat lekat dengan dimensi keyakinan yang merupakan dimensi terdalam dalam
diri manusia. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan
berdasarkan pada landasan yang kuat, yang tidak mudah diumbang-ambing oleh
peredaran zaman. Diskursus teologi, pada hakikatnya, senantiasa akan menyangkut
aktivitas mental berupa kesadaran manusia yang paling dalam perihal relasi manusia
dengan Tuhan, lingkungan dan sesamanya, yang kemudian diwujudkan dalam tingkah
laku sosialnya.[1]
B.
PENGERTIAN PENDEKATAN TEOLOGI
Pendekatan atau approach (dalam bahasa Inggris) adalah
disiplin ilmu yang dijadikan landasan kajian sebuah studi atau penelitian.
Pendekatan dapat dikatakan sebagai disiplin ilmu karena, tujuan utama dari
pendekatan tersebut adalah untuk mengetahui sebuah kajian dan langkah-langkah
metodologis yang dipakai dalam suatu pengkajian atau penelitian.
Pendekatan teologi adalah pembahasan exsistensi Tuhan dalam konsep
nilai- nilai ketuhanan yang terekontruksi dengan baik, sehingga pada akhirnya
menjadi sebuah agama atau aliran kepercayaan. Pendekatan teologi dalam penelitian agama yang
dimaksud disini adalah eksistensi tuhan.[2]
Pendekatan
teologis juga bisa
disebut sebagai pendekatan
kewahyuan atau pendekatan keyakinan peneliti itu sendiri. Pendekatan seperti
ini biasanya dilakukan dalam penelitian suatu agama yang diyakini peneliti
tersebut untuk menambah pembenaran keyakinan terhadap agama yang dipeluknya.[3]
Pendekatan Teologi merupakan pendekatan
yang cenderung normatife dan subjektif terhadap agama. Pendekatan ini umumnya dilakukan
dari dan oleh suatu penganut agama dalamupaya menyelidiki agama lain.
Pendekatan ini sering j uga disebut dengan metode tekstual,atau pendekatan
kitabi. Sebab itu,metode ini seringkali menampakan sifatnya yang opogetis dan
deduktif. Pendekatan teologi sering disebut j uga sebagai prekspektif timur,pendekatan
teologi berarti pendekatan kewahyuan atau pendekatan keyakinan peneliti itu
sendiri.
Dimana agama tidak lain merupakan hak
prerogatife tuhan Tuhan. Realitas sejati dari agama adalah sebagaimana yang
dikatakan oleh masing- masing agama.[4]
Karena sifat dasarnya yang partikularistik, maka dengan mudah kita
dapat menemukan teologi yang beragam, seperti teologi Kristen-Katolik, teologi
Kristen-Protestan, teologi Islam dan lain sebagainya.
C.
PENGERTIAN STUDI ISLAM
Studi berasal
dari bahasa Inggris, study artinya mempelajari atau mengkaji, yang berarti pengkajian
terhadap Islam secara ilmiah, baik Islam sebagai sumber ajaran, pemahaman, maupun
pengamalan.
Islam berasal
dari bahasa Arab, dari kata salima dan aslama. Salima mengandung arti selamat, tunduk dan berserah. Aslama juga mengandung
arti kepatuhan, ketundukan, dan berserah. Orang yang tunduk, patuh dan berserah diri kepada
ajaran Islam disebut muslim, dan akan selamat dunia akhirat. Secara istilah, Islam adalah nama
sebuah agama samawi yang disampaikan melalui para Rasul Allah, khususnya
Rasulullah Muhammad SAW, untuk menjadi pedoman hidup manusia.
Studi Islam adalah pengkajian terhadap segala ilmu yang diperlukan
oleh seseorang muslim dalam kehidupan dunia dan bagi keselamatan ukhrawi hari
kemudian. Ilmu ukhrawi dalam studi Islam meliputi banyak hal yang tidak
termasuk dalam kegiatan penalaran. Sedangkan ilmu duniawi dalam studi
Islam adalah ilmu yang tergolong empiris, dan memerlukan metode ilmiah dalam
pengkajiannya.[5]
Di Barat kajian
Islam terkenal dengan Islamic Studies, yaitu usaha mendasar dan sistematis
untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam seluk beluk yang
berhubungan dengan agama Islam, baik ajaran-ajarannya, sejarahnya, maupun praktek-praktek
pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari sepanjang sejarahnya
(Djamaluddin, 1999:127). Metodologi studi Islam adalah prosedur yang ditempuh secara
ilmiah, cepat dan tepat dalam mempelajari Islam secara luas dalam
berbagai aspeknya, baik dari segi sumber ajaran, pemahaman terhadap sumber ajaran
maupun sejarahnya.
berbagai aspeknya, baik dari segi sumber ajaran, pemahaman terhadap sumber ajaran
maupun sejarahnya.
Dalam
metodologi Studi Islam terdapat prosedur ilmiah, sebagai ciri pokoknya, yang
membedakan dengan studi Islam lainnya yang tanpa metodologi. Kegiatan pengajian
Metodologi Studi Islam misalnya, berbeda dengan kegiatan pengkajian. Pengajian adalah proses memperoleh pengetahuan Islam yang bersifat normatif-teologis bersumber pada Alquran dan Sunnah yang dipahami berdasarkan salah satu pemahaman tokoh madzhab tertentu. Hasilnya umat memperoleh dan mengamalkan pengetahuan Islamnya sesuai dengan pemahaman madzhabnya. Benar dan salah diukur oleh pendapat madzhabnya. Dalam pengajian Islam tidak dibuka wacana dan pemahaman lain selain paham madzhabnya. Jika suatu kali menyentuh paham madzhab lain, tidak dibahas apalagi dipertimbangkan, akan tetapi segera dianggap sesuatu yang keliru, sesat, menyimpang dan tidak jarang dikafirkan.
Umat nyaris tidak tahu ada banyak paham madzhab lain yang juga benar. Umat Islam
pada umumnya hanya tahu bahwa Islam satu, yang benar itu satu yakni menurut madzhab
tertent Di Indonesia dalam pengajian itu umumnya kalau dalam bidang tauhid madzhabny
Asyariah/Ahlussunah waljamaah, bidang fikih madzhabnya Imam Syafi’i, bidang tasawuf
madzhab suni bercorak amali. Pengajian biasanya diselenggarakan dalam majelis-majelis
taklim dengan berbagai bentuknya, begitu juga kebanyakan madrasah dan pesantren dalam
mempelajari Islam lebih mirip kegiatan pengajian ketimbang pengkajian.
membedakan dengan studi Islam lainnya yang tanpa metodologi. Kegiatan pengajian
Metodologi Studi Islam misalnya, berbeda dengan kegiatan pengkajian. Pengajian adalah proses memperoleh pengetahuan Islam yang bersifat normatif-teologis bersumber pada Alquran dan Sunnah yang dipahami berdasarkan salah satu pemahaman tokoh madzhab tertentu. Hasilnya umat memperoleh dan mengamalkan pengetahuan Islamnya sesuai dengan pemahaman madzhabnya. Benar dan salah diukur oleh pendapat madzhabnya. Dalam pengajian Islam tidak dibuka wacana dan pemahaman lain selain paham madzhabnya. Jika suatu kali menyentuh paham madzhab lain, tidak dibahas apalagi dipertimbangkan, akan tetapi segera dianggap sesuatu yang keliru, sesat, menyimpang dan tidak jarang dikafirkan.
Umat nyaris tidak tahu ada banyak paham madzhab lain yang juga benar. Umat Islam
pada umumnya hanya tahu bahwa Islam satu, yang benar itu satu yakni menurut madzhab
tertent Di Indonesia dalam pengajian itu umumnya kalau dalam bidang tauhid madzhabny
Asyariah/Ahlussunah waljamaah, bidang fikih madzhabnya Imam Syafi’i, bidang tasawuf
madzhab suni bercorak amali. Pengajian biasanya diselenggarakan dalam majelis-majelis
taklim dengan berbagai bentuknya, begitu juga kebanyakan madrasah dan pesantren dalam
mempelajari Islam lebih mirip kegiatan pengajian ketimbang pengkajian.
Kelebihan dari
pengajian, umat memperoleh pengetahuan yang simpel, sederhana dan
merasa mantap dengan pengetahuan yang diperolehnya. Adapun kelemahannya amat banyak yaitu antara lain:
1. Umat pengetahuannya terbatas hanya pada satu madzhab tertentu, padahal masih
terdapat banyak madzhab yang lain, yang boleh jadi lebih relevan.
2. Umat menjadi kaku ketika berhadapan dengan umat lain yang berbeda madzhab.
Mereka mengira hanya ada satu madzhab dan hanya madzhabnya saja yang benar.
3. Umat tidak memiliki pilihan alternatif pemikiran sesuai dengan perkembangan tempat
dan zaman yang perkembangannya sangat dinamis.
merasa mantap dengan pengetahuan yang diperolehnya. Adapun kelemahannya amat banyak yaitu antara lain:
1. Umat pengetahuannya terbatas hanya pada satu madzhab tertentu, padahal masih
terdapat banyak madzhab yang lain, yang boleh jadi lebih relevan.
2. Umat menjadi kaku ketika berhadapan dengan umat lain yang berbeda madzhab.
Mereka mengira hanya ada satu madzhab dan hanya madzhabnya saja yang benar.
3. Umat tidak memiliki pilihan alternatif pemikiran sesuai dengan perkembangan tempat
dan zaman yang perkembangannya sangat dinamis.
Berbeda dengan
pengajian Islam, pengkajian Islam adalah proses memperoleh
pengetahuan Islam yang disamping bersifat normatif-teologis, juga bersifat empiris
dan historis dengan prosedur ilmiah. Islam dikaji dari berbagai aspeknya seperti aspek
ibadah dan latihan spritual, teologi, filsafat, tasawuf, politik sejarah kebudayaan Islam
dan lain-lain. Pada setiap aspek dikaji aliran dan madzhab-madzhabnya. Sehingga Islam
yang satu nampak memiliki ajaran yang banyak jenisnya dan tiap jenis ajaran memiliki
ajaran spesifik dari berbagai madzhab atau aliran. Dengan demikian Islam yang satu
memiliki ragam ajaran, ragam pemahaman dan ragam kebenaran. Dengan mengetahui
Islam dari berbagai aspeknya dan dari berbagai madzhab dan alirannya melalui metode
yang sistematis, seseorang akan memiliki pengetahuan Islam yang komprehensif.[6]
pengetahuan Islam yang disamping bersifat normatif-teologis, juga bersifat empiris
dan historis dengan prosedur ilmiah. Islam dikaji dari berbagai aspeknya seperti aspek
ibadah dan latihan spritual, teologi, filsafat, tasawuf, politik sejarah kebudayaan Islam
dan lain-lain. Pada setiap aspek dikaji aliran dan madzhab-madzhabnya. Sehingga Islam
yang satu nampak memiliki ajaran yang banyak jenisnya dan tiap jenis ajaran memiliki
ajaran spesifik dari berbagai madzhab atau aliran. Dengan demikian Islam yang satu
memiliki ragam ajaran, ragam pemahaman dan ragam kebenaran. Dengan mengetahui
Islam dari berbagai aspeknya dan dari berbagai madzhab dan alirannya melalui metode
yang sistematis, seseorang akan memiliki pengetahuan Islam yang komprehensif.[6]
D.
PENDEKATAN TEOLOGIS DALAM STUDI ISLAM
Dalam konteks ajaran Islam, pendekatan teologi yang digunakan
adalah pendekatan teologi yang bersifat normatif. Yang dimaksud bersifat
normatif adalah memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari
Tuhan. Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat
diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ilmu
ke-Tuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu
keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan agama yang
lainnya.[7]Dengan demikian, antara satu aliran dan aliran lainnya tidak
terbuka dan cenderung tidak saling menghargai satu sama lainnya, hal ini lah
yang menyebabkan pemisahan dan ketertutupan antar aliran.
Dalam kaitan ini Amin Abdullah mengatakan, “yang menarik perhatian
sekaligus perlu dikaji lebih lanjut adalah mengapa ketika archetype atau
forn keberagaman (religiosity) manusia telah terpecah dan
termanifestasikan dalam “wadah” formal teologi atau agama tertentu, lalu
“wadah” tersebut menuntut bahwa hanya “kebenaran” yang dimilikinyalah yang
paling unggul dan paling benar.[8] Fenomena semacam inilah yang telah disebutkan di atas sebagai
mengklaim kebenaran (truth claim), yang menjadi sifat dasar teologi,
sudah tentu mengandung impilikasi pemikiran yang partikularistik, eksklusif dan
sering kali intoleran. Pemikiran seperti ini lebih menonjolkan
perbedaan-perbedaan dan menutup rapat persamaan-persamaan yang ada di antara
kelompok-kelompok tersebut.
Pendekatan teologi semata tidak dapat memecahkan masalah pluralitas
agama sekarang ini. Berkenaan dengan hal tersebut, saat ini muncul istilah
teologi masa kritis, salah satu ciri dari teologi masa kini adalah sifat
krtitisnya. Sikap kritis ini ditujukan pertama-pertama pada aganya sendiri
(agama sebagai institusi sosial dan kemudian juga kepada situasi yang
dihadapinya). Teologi sebagai kritik agama berarti antara lain mengungkapkan berbagai
kecenderungan dalam institusi agama yang menghambat panggilannya menyelamatkan
manusia dan kemanusiaan. Teologi bersikap kritis pula terhadap lingkungannya.
Hal ini dapat terjadi kalau agama juga terbuka terhadap ilmu sosial dan
memanfaatkannya bagi pengembangan ilmu teologi itu sendiri.
Pemahaman teologi yang bersifat tertutup memang memicu terjadi
perpisahan atau perpecahan antar kelompok, namun bukan berarti dalam studi
Islam tidak memerlukan pendekatan teologi dalam pengkajiannya, karena tanpa
adanya pendekatan teologis, keagamaan seseorang akan luntur dan tidak jelas
identitasnya serta pelembagaanya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa pendekatan teologis
dalam memahami bahwa pendekatan teologis dalam memahami agama menggunakan cara
berpikir yang deduktif, yaitu cara
berpikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlak adanya,
karena jaran yang berasal dari Tuhan, sudah pasti benar, sehingga tidak perlu
dipertanyakan lebih dahulu, melainkan dimulai dari keyakinan yang selanjutnya
diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi yang mendukung.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Teologi secara umum dipahami sebagai “ilmu tentang ke-Tuhan-an”,
teologi sendiri berasal dari kata theos
yang berarti Tuhan dan logos yang
berarti ilmu atau pengetahuan. Artinya teologi merupakan ilmu yang membahas
tentang ke-Tuhan-an. Baik sifat-sifatNya maupun tindak lakunya. Di dalam islam sering dinamakan ilmu kalam, yang
merupakan cabang dari ilmu tauhid. Dimana ilmu kalam memberikan porsi naqli
terhadap adanya Alloh S.W.T.
Pendekatan teologi adalah pembahasan
exsistensi Tuhan dalam konsep nilai- nilai ketuhanan yang terekontruksi dengan
baik, sehingga pada akhirnya menjadi sebuah agama atau aliran kepercayaan.
Dalam konteks ajaran Islam, pendekatan teologi yang digunakan
adalah pendekatan teologi yang bersifat normatif, yaitu
memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan.
Teologi
bukan muncul karena bukan hanya gejola politik pada masa khalafa rasyidin, akan
tetapi muncul karena perbedaan pemikiran antar imam, antar guru dan murid. Maka
dari itu memang perbedaan adalah rahmatan lil’alamin.
Saran
Agar para pembaca bisa lebih
memahami kembali mengenai apa itu teologi supaya kedepannya pengertian dari teologi, teologi islam dan bagaimana pendekatan teologis dalam studi Islam tidak membuat
bingung kita sebagai umat islam dan kita mengerti berbagai macam ilmu tentang
teologinya sehingga kita mengerti, faham, dan mengamalkan salah satu
kasih sayang dari Alloh S.W.T kepada umatnya, yaitu mengenai indahnya
perbedaan, karena di dunia ini kita terlahir dengan beragam pemikiran dan
pemahaman yang berbeda, dan dari perbedaan inilah akan lahir berbagai pendapat
antar yang berbeda demi terciptanya keindahan dalam menjalani kehidupan di
dunia fana ini dan demi mendapatkan ridha-Nya. Allah Swt.
DAFTAR PUSTAKA
·
Harun Nasotion, Teologi Islam (ilmu kalam),
(J akarta:UI Press,1978)
·
https://s2pergunutulungagung.wordpress.com/2014/02/09. (Diakses
pada Sabtu, 04 Maret 2017, pukul 18:42:17
WIB).
·
Khoiriyah,
M.Ag., Memahami Metodologi Studi Islam, (Yogyakarta: Teras, 2013)
·
Muhammad In’am
Esha, Teologi Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008)
·
Prof. Dr. H. Abuddin Nata ,M.A, Metodologi Studi Islam, (Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 2008)
·
Supiana. Metoologi Studi
Islam. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama. 2012.
·
Taupik Abdullah, Sejarah dan Masyarakat,(J
akarta:Pusaka Firdaus 1987)
[3] https://s2pergunutulungagung.wordpress.com/2014/02/09.
(Diakses pada Sabtu, 04 Maret 2017, pukul 18:42:17 WIB).
[6] Supiana. Metoologi
Studi Islam. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama. 2012. Hlm: 4.
[7] Prof. Dr. H.
Abuddin Nata ,M.A, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2008), hlm. 28.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar